Wartasentral.com, Depok – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) resmi menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan Uganda, sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada 17 Mei 2026.
Status darurat ini diumumkan WHO, dengan rincian penyebab wabah yang utamanya berpusat di Provinsi Ituri, RD Kongo ini disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo.
Dilaporkan adanya ratusan kasus suspek dan belasan hingga puluhan korban jiwa, namun wabah ini belum memenuhi kriteria darurat untuk pandemi global.
Mengutip dari bbc.com, Minggu (31/5/2026) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Lembaga tersebut mengatakan, wabah tersebut tidak memenuhi kriteria darurat pandemi.
Namun, WHO memperingatkan wabah itu berpotensi menjadi “jauh lebih besar” daripada yang saat ini terdeteksi dan dilaporkan. Risiko penyebarannya lokal dan regional, serta punya dampak signifikan.
Wabah Ebola saat ini disebabkan oleh galur Bundibugyo, kata WHO. Saat ini, belum ada obat atau vaksin yang disetujui untuk melawan galur tersebut.
Gejala awal meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, sakit kepala, dan sakit tenggorokan, yang kemudian diikuti muntah, diare, ruam, dan perdarahan.
Apa itu Ebola dan bagaimana penyebarannya?
Apa yang menyebabkan wabah ini? Ebola adalah penyakit yang disebabkan oleh virus—jarang terjadi, tetapi parah dan sering mematikan. Terdapat tiga spesies virus Ebola yang menyebabkan wabah. Galur yang saat ini mewabah dikenal sebagai Bundibugyo.
Bagaimana Ebola ditularkan?
Ebola menyebar antar manusia melalui cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah dan muntahan.
Seberapa mematikan penyakit ini?
Sekitar 30% orang meninggal dalam wabah virus Ebola Bundibugyo sebelumnya.
Berapa masa inkubasinya?
Gejala muncul antara dua hingga 21 hari setelah terinfeksi
Apa saja gejalanya?
Gejala awal muncul secara tiba-tiba dan mirip flu, seperti demam, sakit kepala, dan kelelahan. Saat penyakit berkembang, muntah dan diare muncul dan organ tubuh tidak berfungsi dengan baik. Beberapa pasien dapat mengalami perdarahan internal dan eksternal
Dari mana Ebola berasal?
Wabah dimulai ketika seseorang tertular Ebola dari hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar pemakan buah
Apakah ada vaksin?
Ada vaksin untuk galur Zaire, tetapi tidak untuk Bundibugyo.
Sudah menjalar ke mana saja?
WHO mengatakan kini terdapat delapan kasus yang terkonfirmasi secara laboratorium. Kasus suspek dan kematian berada di tiga zona kesehatan, termasuk Bunia yang merupakan ibu kota Provinsi Ituri, serta kota penambangan emas Mongwalu dan Rwampara.
Satu kasus virus ini telah dikonfirmasi di ibu kota RD Kongo, Kinshasa. Pasien itu diyakini baru bepergian dari Provinsi Ituri.
WHO mengatakan, virus tersebut telah menyebar di luar RD Kongo. Sebanyak dua kasus terkonfirmasi dilaporkan berada di negara tetangga, Uganda.
Pejabat Uganda mengatakan seorang pria berusia 59 tahun yang meninggal pada Kamis (14/05), dinyatakan positif mengidap Ebola.
Pemerintah Uganda mengatakan pasien yang meninggal tersebut, adalah warga negara Kongo yang jenazahnya telah dipulangkan ke RD Kongo.
Menyusul keputusan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau masyarakat lebih berhati-hati, termasuk soal konsumsi makanan.
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) juga mengonfirmasi, hingga saat ini belum ada kasus Ebola yang terdeteksi di Indonesia. Namun, langkah antisipatif dan pengetatan pengawasan di pintu masuk negara telah diperketat.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengingatkan masyarakat, agar tidak mengonsumsi daging mentah maupun hewan liar guna mencegah risiko penularan penyakit.
“Masyarakat diimbau hanya mengonsumsi daging yang telah dimasak matang dan menghindari konsumsi hewan liar,” kata Aji saat dihubungi, Minggu (17/5/2026).
Imbauan itu disampaikan setelah WHO mengumumkan status darurat global Ebola, akibat lonjakan kasus di Kongo dan Uganda.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut, hingga kini telah dilaporkan lebih dari 300 kasus suspek Ebola dan 88 kematian.
Meski berstatus darurat kesehatan global, WHO menegaskan wabah ini belum masuk kategori pandemi seperti COVID-19. WHO juga tidak merekomendasikan, penutupan perbatasan internasional.
Otoritas kesehatan mengungkap wabah kali ini dipicu virus Bundibugyo, salah satu varian Ebola langka yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui.
Merespons situasi tersebut, Aji mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kasus Ebola di dunia dan memperkuat kesiapsiagaan nasional, agar penyakit tidak meluas ke Indonesia.
“Pemerintah terus melakukan pemantauan perkembangan kasus Ebola di tingkat global, serta memperkuat kesiapsiagaan nasional guna mencegah masuknya penyakit ke Indonesia,” ujarnya.
Kemenkes, kata Aji, telah memperketat pengawasan pelaku perjalanan internasional di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, hingga pemanfaatan aplikasi All Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan 198 rumah sakit rujukan, dalam jejaring layanan pengampuan Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Penguatan surveilans dilakukan, melalui pemantauan di 21 rumah sakit sentinel yang tersebar di 20 provinsi.
Kemenkes juga disebutnya menyiapkan kapasitas laboratorium, pelatihan tenaga kesehatan, serta koordinasi lintas sektor termasuk dengan WHO.
Aji mengimbau masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, memakai masker saat sakit atau di tempat umum, serta menerapkan etika batuk dan bersin.
“Masyarakat juga diminta menghindari kontak dengan orang, hewan, maupun benda yang terkontaminasi,” pungkasnya.
Ebola Sudah Masuk Kota Depok?
Salah satu warga Kota Depok jenis kelamin perempuan yang meninggal dunia di RSUD Khidmat Sehat Afiat (KiSA) Depok, Sabtu (30/5/2026) ditengarai mengidap penyakit ebola.
Hal itu disampaikan salah satu keluarganya, saat persiapan proses sholat jenazah dikawasan Perumahan Cipayung, Kota Depok sebelum dikebumikan di TPU Pasir Putih, Sawangan.
“Ini infonya kena penyakit ebola gitu, sudah sebulan dirawat dan sebelum meninggal sempat harus cuci darah,” jelasnya, dipelataran Mushola.
Hingga berita ini dimuat, belum ada informasi akurat dari pihak RSUD KiSA maupun Dinas Kesehatan Kota Depok terkait kebenaran hal tersebut. (Key)
Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8493032/who-tetapkan-ebola-darurat-global-kemenkes-wanti-wanti-konsumsi-makanan-seperti-ini?page=2
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cj0pe3myjypo
