Wartasentral.com, Jakarta – Pendiri sekaligus mantan Ketua Umum (Ketum) Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Periode 2021–2026 Maryoko Aiko, turut hadir menyaksikan pelantikan jajaran Pengurus DPP SWI masa bakti 2026–2031, oleh Ketum SWI terpilih H. Iskandar, S.Sos, di Grand Ballroom United Tractors, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (19/7/2026).
Pelantikan yang mengusung tema “Menguatkan Solidaritas Wartawan, Membangun Organisasi yang Profesional, Berintegritas dan Berdaya Saing”, menurutnya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat kembali arah perjuangan organisasi.
“Hari ini saya menyaksikan estafet kepemimpinan Sekber Wartawan Indonesia, kembali berlanjut. Ketua Umum SWI H. Iskandar, S.Sos., resmi melantik jajaran pengurus DPP SWI periode 2026-2031,” tukasnya.
Baginya, setiap pergantian kepemimpinan bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana nilai-nilai organisasi tetap hidup dan diwariskan.
“Kepengurusan boleh berganti, tetapi idealisme wartawan tidak boleh luntur. Itulah ruh yang harus terus dijaga oleh siapa pun, yang mengemban amanah di SWI,” tekan Aiko.
Ia menyampaikan, selama memimpin SWI pada periode 2021–2026, ia belajar bahwa organisasi wartawan tidak akan dihormati hanya karena jumlah anggotanya atau luasnya jaringan yang dimiliki.
Kehormatan organisasi lahir dari integritas setiap anggotanya; dari keberanian menyampaikan fakta, menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik, menjaga independensi, serta menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Kepercayaan masyarakat, lontarnya, adalah kehormatan yang harus dirawat setiap hari. Sekali kepercayaan itu hilang, tidak mudah untuk mengembalikannya.

“Karena itu, wartawan harus terus menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan profesional dalam setiap karya jurnalistiknya,” imbuhnya.
Aiko berharap, kepemimpinan H. Iskandar mampu membawa SWI menjadi organisasi yang semakin kuat, adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai dasar jurnalisme.
Pasalnya, sambungnya, perubahan zaman tidak boleh mengubah karakter dasar wartawan sebagai pencari kebenaran.
Ia juga mengapresiasi langkah kepengurusan baru yang langsung menghadirkan program SWI Green Impact, dipadukan dengan kegiatan Literasi Hukum Bijak Bermedia Sosial dan diskusi “Sampah Jadi Cuan”.
“Bagi saya, inilah bukti bahwa organisasi wartawan tidak hanya berorientasi pada pemberitaan, tetapi juga mampu menghadirkan gerakan sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Aiko membeberkan, gerakan ekonomi sirkular yang diusung SWI menunjukkan bahwa wartawan juga dapat menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Pers tidak hanya mengabarkan persoalan, tetapi juga ikut mendorong lahirnya solusi. Begitu pula literasi hukum di ruang digital, menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi harus selalu diiringi tanggung jawab moral dan hukum.
“Menurut saya, inilah wajah organisasi pers yang relevan dengan tantangan zaman, kritis terhadap kebijakan, berpihak kepada kepentingan publik, sekaligus mampu membangun kolaborasi dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” untainya.
Ke depan, Aiko berharap wartawan Indonesia semakin mengambil peran dalam mengisi pembangunan nasional. Pers harus menjadi mitra kritis pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Katanya, Wartawan tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mengangkat inovasi, pendidikan, kebudayaan, ekonomi kerakyatan, pelestarian lingkungan, serta berbagai praktik baik yang mampu menginspirasi masyarakat.
Pembangunan tidak hanya membutuhkan jalan, jembatan, pelabuhan, atau gedung-gedung megah. Bangsa ini juga membutuhkan pembangunan karakter, budaya, dan kesadaran publik. Semua itu memerlukan pers yang independen, jujur, mencerdaskan, dan mampu menumbuhkan optimisme.
“Saya mengucapkan selamat, kepada H. Iskandar beserta seluruh jajaran Pengurus DPP SWI masa bakti 2026–2031. Jalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab, perkuat solidaritas organisasi, tingkatkan profesionalisme dan jagalah marwah profesi wartawan,” ucap Aiko.
Ia mengutarakan, pada akhirnya, seorang wartawan tidak akan dikenang karena jabatan yang pernah diembannya.
“Melainkan karena integritas yang mampu dipertahankan, keberanian membela kebenaran, serta manfaat yang telah diberikan bagi masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya. (Rik)






