Wartasentral.com, Kota Bekasi– Di tengah berbagai keterbatasan, secercah harapan hadir bagi anak-anak yang selama ini menghabiskan waktu di jalanan sebagai pemulung maupun pengamen.
Melalui pendampingan Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, puluhan anak dari kelompok rentan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal.
“Empat anak, yakni Anindia Paujia, Citra Ardillah, Tiara Vika Lestari, dan Yudistira, secara resmi diterima sebagai siswa SDN Jatisampurna II, Kota Bekasi. Mereka dijadwalkan mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar pada Senin, 13 Juli 2026,” ungkap Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito, Sabtu (4/7/2026).
Ia mengemukakan, keempat calon siswa tersebut pagi tadi menjalani rangkaian proses administrasi, menjelang tahun ajaran baru.
“Kegiatan yang dilakukan meliputi pengukuran seragam sekolah, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga sesi pemotretan untuk pembuatan kartu identitas peserta didik dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB),” jelas Eddie.
Tak hanya empat anak tersebut, pada tahun 2026, kupasnya, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan berhasil mendaftarkan sebanyak 26 anak ke berbagai jenjang pendidikan.
“Mereka akan menempuh pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Program Pendidikan Kesetaraan Paket A,” terangnya.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu cara paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan, sekaligus melindungi anak-anak dari berbagai bentuk eksploitasi yang masih banyak terjadi di jalanan.
Selama ini, ungkap Eddie, masih banyak anak yang terpaksa bekerja sebagai pengamen atau pemulung karena kondisi ekonomi keluarga.
“Situasi tersebut, membuat mereka rentan kehilangan hak-hak dasar, termasuk hak memperoleh pendidikan yang layak,” imbuhnya.
Eddie mengatakan, Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk bersama-sama mendukung pendidikan bagi anak-anak dari kelompok rentan.
Pendampingan dan kepedulian masyarakat dinilainya menjadi kunci agar mereka dapat tetap bersekolah, membangun masa depan yang lebih baik, serta terhindar dari eksploitasi oleh orang dewasa.
Bagi anak-anak yang selama ini akrab dengan kerasnya kehidupan jalanan, bangku sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung.
“Sekolah menjadi pintu menuju masa depan yang lebih cerah, menghadirkan harapan baru, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk tumbuh, bermimpi, dan meraih cita-cita yang selama ini terasa begitu jauh,” pungkasnya. (Key)
