Ragam  

Gelar Seminar, Simenteknindo Ajak Pelaku Industri Manfaatkan AI Secara Efisien

CEO PT Simenteknindo Hendi (tengah) bersama para narasumber sumber Seminar Industri Implementasi AI dalam industri (foto: Riki)

Wartasentral.com, Jakarta – Sebagai Perusahaan terkemuka di Indonesia yang bergerak di bidang distributor resmi dan integrator sistem produk otomasi industri, PT Simenteknindo, menggelar Seminar bertajuk Unlocking AI Potential, Design, Build and Run, di Lt. 1 Holiday Inn Express Jakarta International Expo (Jiexpo) Arena Pekan Raya Jakarta, Jl. H. Benyamin Sueb Jl. Rajawali Selatan Raya Pintu 6, Pademangan Timur, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/9/2026).

CEO Simenteknindo Hendi mengatakan, Seminar ini menjadi ajang edukasi, sharing dan solusi bagi para perusahaan atau pabrik yang sudah maupun yang baru mengimplementasikan Artificial Intelegence (AI) dalam industri mereka.

“Simenteknindo yang memiliki bidang usaha Elektrifikasi, penggerak (drive technology), instrumentasi dan digitalisasi proses industri atau penyedia jasa integrasi sistem untuk otomatisasi industri, sangat memahami persoalan itu,” ujarnya.

Para ahli implementasi AI dari Simenteknindo seperti Livia Lim dan Alvin Kamal serta praktisi AI Jeon Nathaniel, dihadirkan dalam event tersebut guna berbagi pengalaman dan memberikan AI Strategy into Real Business Impact.

“Seminar ini mendapat dukungan dari Siemens, brand dari eropa dan Innomotics, dengan mendatangkan expert untuk melakukan presentasi pemakaian AI dari manual ke otomasi. Alvin salah satu dedengkot teknologi Simenteknindo, yang sudah biasa dengan teknologi,” papar Hendi.

Alvin Kurnia Kamal CTO Simenteknindo mengutarakan, biasanya perusahaan khawatir mengenai value invetasinya jika menggunakan AI.

Menurutnya, faktor biaya kerap menjadi pertimbangan terbesar di awal bagi para pelaku industri, meski potensi efisiensinya tetap dapat terukur dengan jelas.

“Tantangan terbesar yang pasti lebih besar di cost, ya. Walaupun sebenarnya, semuanya bisa dihitung. Karena dengan implementasi sistem ditenagai AI, juga kan ada efisiensinya. Semua itu bisa dihitung,” ungkap Alvin.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kekhawatiran terkait nilai investasi awal tersebut sebenarnya dapat diatasi, melalui perencanaan analisis keuangan dan proyeksi efisiensi yang matang.

“Jadi, biasanya perusahaan itu mungkin agak khawatir di awal ketika mengetahui investasinya. Tapi sebenarnya kalau di-breakdown lagi, disusun lagi forecast-nya terkait efisiensi, itu bisa menguntungkan. Bahkan tidak cuma investasinya, bisa menguntungkan dari segi efisiensinya,” paparnya.

Padahal jika menggunakan bisa menguntungkan dari segi efisiensi, apalagi sistem perusahaan yang sudah stabil sudah lama digunakan.

“Biasanya kan sudah melalui banyak proses penyempurnaan, jadi sebisa mungkin sebenarnya tidak merubah itu, justru kita menambah tenaganya lah ibaratnya seperti itu,” ungkapnya.

Bagi perusahaan yang baru mau mulai mengimplementasikan AI, menurut AI Automotion Expert Jeon Nathaniel, perusahaan bisa mulai dari apa yang selama ini merka perlukan.

Ini bukan mulai dari teknologi yang terbaru, tapi dari masalah yang sering dihadapi. Apa yang bisa dilakukan yang bisa diimplementasikan. Lalu setelah itu, baru bisa menentukan spek apa yang dipakai.

“Jadi penggunaan AI sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan sekedar mengikuti trennya ya,” ulasnya.

Selain itu, lanjutnya mungkin dari infrastruktur atau peralatan sebenarnya sudah ada. Namun perusahaan juga perlu mengintegrasikan semua data, supaya AI ini benar-benar bisa mengetahui semua.

“Jadi jika tidak sesuai dengan apa yang kita integrasikan, ini bisa halusinasi gitu. Sebaiknya, kita punya data yang benar-benar ada,” tekannya.

Sementara Nara sumber dari Siemens Specialist Factory Automotion Livia Lim memaparkan, AI sebenarnya disediakan Simenteknindo, Siemens hanya berupa kerangka saja.

“AI yang kita punya sebenarnya berupa platform, yang nantinya bisa digunakan untuk mengembangkan produksi dan solusi yang tepat guna untuk customer. Kerangka itu juga tetap harus dimasukkan atau diisi oleh data di customer,” bebernya.

Kalau di analogikan, jelasnya, Siemens itu yang membuat kerangkanya, teman-teman Simanteknindo yang membuat. Contohnya, bagaimana sih cara bikin coklat jadi es krim coklat.

Rantho Pasaribu selaku Innomotics Product Sales Manager mengutarakan, perusahannya secepat mungkin akan implementasikan itu.

“Kita sendiri akan mengimplementasi itu nanti di drive, kita prediksi kita di tahun 2028. Implementasi AI ini membuat orang mulai berpikir bahwa penggunaan AI bagus untuk identifikasikan persoalan mesin,” imbuhnya.

Rantho lantas memberikan apresiasi Seminar yang digelar PT Simenteknindo. Sebab, dari sekarang sudah mempunyai visi kedepannya bagaimana memanfaatka teknologi ini.

“Karena seperti produk kami itu, tidak bisa juga berdiri sendiri. Perlu juga produk-produk dari Simenteknindo, untuk diintegrasikan ke produk mesin kami,” terangnya.

Ia menegaskan, penggunaan AI masih butuh campur tangan manusia. Seperti membuat rancangannya, bisa dibantu oleh manusia.

“Jadi penggunaan AI dalam perusahaan, tidak akan mengurangi tenaga kerja manusia. Malah justru produktivitas akan bertambah, karena orangnya bisa melakukan pekerjaan lain untuk menambah hasil produksinya,” pungkasnya. (Rik)

Tinggalkan Balasan