Wartasentral.com, Jakarta – Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar memimpin langsung pengawasan keamanan pangan, jelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di sejumlah pasar modern dan tradisional.
Ia mengatakan, untuk memastikan keamanan pangan, dilakukan kolaborasi antara Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Jakarta, serta Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan.
Menurutnya, pengawasan keamanan pangan hari ini dilakukan melalui uji petik atau sampling pangan di lima lokasi pasar, salah satunya di AEON Mall Tanjung Barat.
“Alhamdulillah, dari 19 jenis sampel yang diperiksa di sini, baik dari kategori makanan olahan, produk pertanian, perikanan, maupun peternakan, seluruhnya dinyatakan negatif dari zat berbahaya dan dalam kondisi baik,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Anwar menjelaskan, pengawasan pangan ini merupakan upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan untuk memastikan seluruh warga dapat mengonsumsi pangan yang aman, serta tidak berdampak buruk bagi kesehatan di masa depan.
Ia menambahkan, berdasarkan temuan di lapangan, produk yang mengandung zat berbahaya lebih sering ditemukan di pasar tradisional atau pedagang kaki lima.
Hal itu biasanya terjadi, karena masyarakat cenderung mencari harga yang lebih murah tanpa mempertimbangkan kualitas produk.
“Kami ingin memastikan masyarakat yang akan merayakan Lebaran, dapat memperoleh bahan pangan yang sehat dan bebas dari zat berbahaya. Saya mengimbau kepada seluruh warga, untuk lebih selektif dalam memilih bahan pangan,” ajaknya.
Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Selatan Ridho Sosro menjelaskan, pengawasan keamanan pangan hari ini dilakukan di tiga supermarket dan dua pasar tradisional.
“Tiga supermarket tersebut adalah Fresh Market di AEON Mall Tanjung Barat, Naga Swalayan, serta Transmart Cilandak. Sementara dua pasar tradisional yang menjadi lokasi pengawasan adalah, Pasar Minggu dan Pasar Lenteng Agung,” terangnya.
Ridho memaparkan, dari hasil uji sampel yang dilakukan bersama BBPOM tidak ditemukan zat berbahaya pada bahan pangan dari komoditas pertanian, peternakan, maupun perikanan.
“Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini, komoditas pangan baik di pasar tradisional maupun pasar swalayan dapat terjamin keamanannya, sehingga masyarakat terhindar dari penyakit yang ditimbulkan oleh bahan kimia berbahaya,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kelompok Substansi Informasi dan Komunikasi BBPOM di Jakarta Evi Citraprianti menambahkan, uji laboratorium dilakukan untuk memastikan bahan pangan bebas dari zat berbahaya seperti pengawet sintetis, yakni Formalin dan Boraks, serta pewarna tekstil seperti Rhodamin B dan Metanil Yellow.
“Kami tidak menemukannya hari ini. Namun masyarakat juga harus melakukan pengecekan melalui prinsip Cek KLIK, yaitu Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa,” utasnya. (Rck)
