Ragam  

Kemenag Siapkan Ribuan Rumah Ibadah 24 jam Untuk Transit Pemudik Lebaran

Rapat internal rutin Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama jajaran pimpinan eselon Kementerian Agama (foto: ist)

Wartasentral.com, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri, saat dalam perjalanan mudik ke kampung halaman pada momen Idulfitri 1447 H.

Jika lelah dalam perjalanan, Kemenag telah siapkan ribuan rumah ibadah yang siap melayani 24 jam selama fase arus mudik dan arus balik lebaran 2026.

Kesiapan akhir Rumah Ibadah Ramah Pemudik ini dibahas bersama dalam rapat internal rutin Menteri Agama Nasaruddin Umar, bersama jajaran pimpinan eselon Kementerian Agama di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Kemenag mencatat ada 6.859 masjid di seluruh Indonesia, yang telah terdaftar dan menyatakan siap berpartisipasi dalam program tersebut.

“Selain itu, ada 44 rumah ibadah umat Buddha ramah pemudik di 11 provinsi (Sumatera, Jawa, hingga Kepulauan Nusa Tenggara) dan 32 kabupaten/kota yang juga siap melayani,” jelasnya.

Rumah ibadah yang tersebar di sepanjang jalur mudik nasional itu, siap menjadi tempat istirahat sementara bagi para pemudik yang melakukan perjalanan jarak jauh.

Kehadiran rumah ibadah lintas agama ini, diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial dalam melayani masyarakat selama musim mudik.

Menag menegaskan, rumah-rumah ibadah yang berada di jalur mudik harus benar-benar siap melayani para pemudik selama periode perjalanan Lebaran.

“Kita ingin agar rumah-rumah ibadah lintas agama yang berada di jalur mudik, benar-benar siap melayani para pemudik,” tukasnya.

Rumah ibadah tersebut diharapkannya dapat dibuka selama 24 jam selama masa mudik, karena para pemudik datang silih berganti sepanjang waktu.

Menurutnya, kesiapan layanan juga harus disertai dengan pengaturan petugas yang berjaga agar keamanan dan kenyamanan pemudik tetap terjaga.

“Perlu ada petugas yang berjaga, agar keamanan tetap terjamin. Jangan sampai jamaah yang beristirahat, justru mengalami kehilangan barang atau hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Nasaruddin juga mendorong pengelola rumah ibadah menyediakan fasilitas dasar bagi pemudik, terutama karena perjalanan mudik tahun ini berlangsung dalam suasana Ramadan.

“Jika memungkinkan, disediakan takjil atau makanan berbuka bagi para pemudik, serta minuman atau makanan sederhana untuk sahur. Ini bagian dari pelayanan kemanusiaan dan kepedulian sosial,” kata Menag.

Selain itu, ia meminta agar layanan yang diberikan benar-benar bersifat gratis dan tidak dimanfaatkan oleh oknum tertentu.

“Pelayanan ini sebaiknya gratis. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi dengan meminta bayaran kepada pemudik. Karena itu perlu koordinasi dengan aparat setempat agar layanan ini benar-benar bebas biaya,” tekannya.

Menag juga mendorong agar masjid menyediakan fasilitas tambahan, yang dapat membantu kenyamanan perjalanan pemudik.

“Jika memungkinkan, disediakan fasilitas pengisian daya telepon seluler, ruang khusus bagi ibu menyusui, serta layanan sederhana seperti tambal ban atau obat-obatan ringan, bahkan bekerja sama dengan puskesmas terdekat untuk layanan kesehatan dasar,” tambahnya.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad menyampaikan, program ini telah memberikan dampak positif pada musim mudik tahun sebelumnya.

Pada 2025, program Masjid Ramah Pemudik dimanfaatkan sekitar 1,7 juta pemudik. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, tingkat fatalitas kecelakaan pemudik juga mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Salah satu faktor pendukungnya adalah keberadaan masjid, yang menjadi tempat singgah bagi para pemudik, khususnya pengguna sepeda motor,” jelasnya.

Abu Rokhmad menambahkan, pelaksanaan program tahun ini melibatkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.

“Masjid-masjid dalam program ini berada di sepanjang jalur mudik nasional dan pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi dengan Kementerian Perhubungan serta Kepolisian Republik Indonesia,” tandasnya. (Cky)

Tinggalkan Balasan