Wartasentral.com, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka sosialisasi pembelajaran pendidikan Pancasila, pada satuan pendidikan jenjang SD, SMP, SMA, SMK di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya mengubah paradigma pendidikan Pancasila dari sekadar hafalan dogmatis, menjadi praktik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Saya sungguh berharap bahwa Pancasila itu, hadir di dalam ruang diskusi yang hidup di kelas. Jangan bersifat dogmatis. Dengan mengaitkan proses pembelajaran para siswa dengan hal-hal up to date, apa yang terjadi pada masyarakat saat ini,” jelas Pramono.
Menurutnya, ideologi Pancasila relevan dalam setiap perkembangan zaman. Dengan mempelajari dan mendalami nilai-nilai Pancasila, Pramono meyakini kehidupan bermasyarakat akan terbangun menjadi lebih baik.
Ia mencontohkan praktik nyata yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila melalui kebijakan yang inklusif.
Seperti perayaan berbagai hari besar keagamaan, mulai dari Christmas Carol, Imlek, pawai Ogoh-ogoh saat Nyepi, hingga menyambut Ramadan dan Idulfitri.
“Bahkan selama ini yang namanya Balai Kota, kebetulan sekarang masih ornamennya adalah ornamen Idulfitri. Balai Kota pada saat Christmas yang lalu, Balai Kota itu betul-betul ornamennya adalah ornamen Christmas,” lanjutnya.
Perayaan berbagai hari besar keagamaan di Jakarta pun, memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Jakarta dan pendapatan daerah.
Melalui berbagai pesta diskon di pusat perbelanjaan dan insentif pajak yang diberikan selama program Mudik ke Jakarta, mampu meningkatkan nilai transaksi belanja sebesar Rp67,5 triliun.
Peningkatan transaksi belanja itupun, juga mendorong capaian pajak daerah yang telah melebihi target. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga momentum baik tersebut.
Selain itu, Gubernur juga berpesan agar proses pembelajaran nilai-nilai Pancasila dilakukan dengan menyenangkan dan penuh makna.
Ia tak ingin anak didik, hanya sekedar diminta untuk menghafalkan Pancasila diluar kepala namun tak memahami makna mendalamnya.
“Kalau hafalan, pasti saya yakin di ruang ini semuanya hafal Pancasila. Tetapi menjadi menyenangkan terutama bagi para siswa itu, adalah sesuatu hal yang lebih kuat, lebih dalam, lebih bermakna,” tatar Mas Pram.
Tak hanya itu, ia juga ingin agar pembelajaran Pancasila dilakukan dengan menyatukan nilai di keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi satu potret kehidupan utuh.
“Kalau itu sudah menjadi satu dan bisa bertahan sampai dengan hari ini, saya yakin itu sudah menjadi kekuatan yang luar biasa,” kata Pramono.
Ia ingin Jakarta bisa menjadi role model pembelajaran Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, melalui berbagai kegiatan keberagaman yang mencerminkan Jakarta sebagai kota global, multikultur, dan rumah bagi semuanya.
Sementara Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia Yudian Wahyudi menjelaskan, saat ini terdapat perubahan signifikan dalam komposisi pembelajaran pendidikan Pancasila, yakni 30 persen merupakan materi teori dan 70 persen praktik lapangan.
“Dari situ nanti akan lahir anak didik atau yang akan menjadi tokoh-tokoh bangsa itu, bisa menghayati itu dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.
BPIP juga berharap Jakarta sebagai ibu kota bisa menjadi percontohan bagi daerah lainnya, dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila.
“Karena mau tidak mau sebuah peradaban, sebuah pemerintahan itu diukur dengan ibu kota. Nah jadi dari DKI ini yang tadi kota metropolitan, multikultur, global, itu akan menetes ke bawah. Jadi lebih memudahkan memberikan teladan kepada semua lembaga pendidikan di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (Rck)






