Wartasentral.com, Jakarta – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri menyoroti pentingnya adaptasi digital bagi para pelaku usaha di era modern, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan dalam menjalankan usahanya.
Hal ini disampaikannya dalam kegiatan pelatihan kekayaan intelektual (KI) dan pemasaran digital ‘Waktunya STARt! #JualanNyaman Spesial Hari Kartini’, yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan bersama Tokopedia dan TikTok Shop di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
“Perubahan perilaku konsumen yang dinamis menuntut UMKM tidak hanya sekadar hadir secara daring, tetapi juga mampu mengoptimalkan ekosistem digital demi menjaga relevansi dan daya saing produk lokal di pasar global. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah dan platform digital seperti Tokopedia serta TikTok Shop dinilai sangat penting,” jelas Roro.
Wamendag menerangkan, melalui pembekalan ini, mulai dari penguatan promosi hingga peningkatan daya saing, Kementerian Perdagangan ingin memastikan pelaku UMKM perempuan bisa lebih siap, lebih percaya diri, dan makin kuat mengisi pasar niaga elektronik (e-commerce).
Di samping itu, program ini juga diharapkan menjadi wadah pendampingan dan inspirasi bagi sesama perempuan pengusaha untuk terus berinovasi, meningkatkan strategi pemasaran melalui gawai, serta memperkuat posisi produknya di mata konsumen.
Menurutnya, UMKM memegang peranan penting dalam ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 61 persen terhadap PDB nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional. Dalam struktur UMKM nasional, sekitar 37 juta pelaku usaha atau 64,5 persen dikelola perempuan.
“Ini menunjukkan pelaku usaha perempuan memegang peran kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan bukan hanya penting, tapi juga strategis. Saat UMKM perempuan naik kelas, maka kita sedang memperkuat fondasi utama ekonomi Indonesia secara nyata,” tegasnya.
Upaya strategis untuk memberdayakan UMKM perempuan, antara lain dapat dilakukan dengan meningkatkan literasi digital bagi perempuan Indonesia.
Namun, dengan dinamis dan cepatnya perkembangan ekonomi digital, tantangan ke depan bagi UMKM Indonesia tidaklah mudah. UMKM Indonesia dituntut harus beradaptasi, terhadap perkembangan promosi di era digital.
Wamendag Roro melanjutkan, di era digital saat ini, promosi tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara konvensional.
UMKM perlu lebih adaptif dengan memadukan strategi promosi melalui berbagai inovasi, mulai dari pemanfaatan media sosial hingga kolaborasi dengan afiliator, agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan sesuai dengan target pasarnya.
“Penguasaan pemasaran digital, kemampuan dalam pembuatan konten kreatif hingga literasi terkait perlindungan KI sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan dan daya saing usaha kini menjadi kunci utama dalam memperluas akses pasar,” imbuhnya.
Ia kemudian menguraikan, pemerintah aktif berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan kompetensi UMKM melalui penyediaan berbagai ‘klinik’.
Seperti klinik pemasaran dan klinik desain di Indonesia Design Development Center (IDDC), yang menjembatani desainer lokal dengan pelaku usaha guna meningkatkan kualitas produk.
Selain memperkuat pasar domestik dengan menghubungkan UMKM ke ritel modern, pemerintah juga fokus memperluas akses pasar luar negeri di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Hal ini dilakukan melalui berbagai perjanjian dagang di wilayah strategis seperti Uni Eropa, Amerika Latin, Eurasia, dan ASEAN yang sejalan dengan arahan Presiden RI untuk menjaga ketahanan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, sektor inovasi digital pun turut didorong melalui program seperti pengenalan AI bagi UMKM dan kegiatan penjajakan bisnis (business matching), yang melibatkan kreator konten, serta pemanfaatan momentum Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
“Ke depan, kami berharap UMKM dapat terus memperkuat kolaborasi dan membangun jejaring pemasaran yang lebih efektif serta berkelanjutan melalui berbagai ekosistem promosi yang ada,” tekannya.
Dengan sinergi yang kuat, tukasnya, dapat mendorong peningkatan penjualan, memperkuat posisi produk lokal.
“Serta menciptakan efek berganda (multiplier effect) hingga membuka lebih banyak lapangan kerja, yang pada akhirnya memberi dampak positif bagi perekonomian nasional,” ujar Wamendag Roro.
Senior Director of Tokopedia and TikTok Shop Indonesia Vonny Ernita Susamto menerangkan, pihaknya percaya di era discovery e-commerce saat ini, kepemilikan KI dan kemampuan pembuatan konten digital menjadi krusial agar pelaku usaha dapat nyaman dalam menjalankan usahanya.
“Melalui integrasi platform kami, kami terus memperkuat perlindungan KI dan mempermudah akses berusaha, seperti NIB dan sertifikasi halal, guna meningkatkan kepercayaan konsumen serta membantu produk lokal naik kelas di ekosistem digital,” terangnya.
Founder Fashters Nurkamala, salah satu UMKM asal Tangerang yang hadir sebagai peserta, menyambut baik kolaborasi Kementerian Perdagangan, Tokopedia, dan TikTok Shop kali ini.
Setelah mengikuti kegiatan ini, ia berharap dapat meningkatkan visibilitas dan trafik toko daringnya, yang pada akhirnya akan mendongkrak pendapatan.
“Melalui kegiatan pendampingan ini, saya berharap bisa mendapatkan wawasan baru mengenai strategi konten dan cara mengoptimalkan fitur live streaming agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas, baik secara lokal maupun global,” kata Nurkamala.
Sedangkan, pendiri Dapur Mami Kikas Meida Lestari menyampaikan kegembiraannya, terhadap kegiatan tersebut.
Pendampingan ini memberikannya banyak manfaat, mulai dari pentingnya memiliki dan melindungi kekayaan intelektual untuk usaha, sampai cara membuat konten video yang menarik agar produk lebih mudah dikenal dan dipromosikan secara daring.
“Sebagai pelaku usaha UMKM perempuan, dukungan dari Tokopedia, TikTok Shop, dan Kementerian Perdagangan sangat berarti karena membantu kami semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha di era digital,” utasnya. (Rck)






