Ekbis  

Peningkatan Kapasitas dan Penguasaan Ilmu Jadi Kebutuhan Utama Hadapi Cepatnya Perubahan Dunia

Wamenkeu Juda Agung, dalam Acara Puncak Kemenkeu Learning Festival di Jakarta, Selasa (28/4/2026). (Foto: Kemenkeu)

Wartasentral.com, Jakarta – Di tengah dinamika dunia yang cepat berubah dan penuh dengan ketidakpastian, peningkatan kapasitas dan penguasaan ilmu menjadi kebutuhan utama.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung, dalam Acara Puncak Kemenkeu Learning Festival di Jakarta pada Selasa (28/4/2026).

“Mengapa kita perlu terus belajar? Karena memang dunia ini cepat sekali berubah. Ada disruption, kemudian penuh dengan ketidakpastian dan ilmu yang kita pelajari, mungkin sebentar saja sudah out of date, sudah obsolete, sudah usang,” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Wamenkeu menyebut setidaknya ada tiga hal yang perlu disiapkan oleh pengelola fiskal di Indonesia ke depan.

Pertama, kemampuan membaca tren dan memetakan masa depan. Pengelola fiskal dituntut mampu membaca tren global, seperti transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan, perubahan demografi seperti penuaan penduduk, hingga dinamika geopolitik yang memengaruhi kebijakan ekonomi.

“Bagaimana kita bisa memetakan apa yang akan terjadi kedepan, memetakan landscape yang akan kita hadapi ke depan, sehingga kita bisa mempersiapkan respon kebijakan, melakukan kajian-kajian yang kemudian kedepan sangat diperlukan di dalam menghadapi mapping ataupun perubahan landscape itu,” jelasnya.

Kedua, penguasaan teknologi, khususnya Artificial Inteligence dan big data. Dengan ketersediaan data yang besar, pemanfaatan analitik dinilai dapat memperkuat pengambilan keputusan. Optimalisasi teknologi ini, diyakini akan meningkatkan efektivitas dan akurasi kebijakan fiskal.

Ketiga, penerapan agile leadership. Dalam situasi penuh ketidakpastian, pemimpin dituntut mampu beradaptasi cepat dan mengambil keputusan meski dengan informasi yang terbatas.

Pendekatan berbasis skenario dan probabilitas menjadi penting, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk dampak geopolitik global terhadap perekonomian domestik.

Di era yang penuh ketidakpastian ini, tambahnya, semua juga dituntut untuk bisa mengambil keputusan dalam ketidakpastian.

“Decision making under uncertainty. Artinya, kata Juda, harus membuat skenario-skenario yang kita hadapi ke depan dan mencoba untuk melihat ataupun menghitung, menimbang probabilitas-probabilitas,” pungkasnya. (Key)

Tinggalkan Balasan