Wartasentral.com, Depok – Rapat Paripurna Penutupan Tahun Anggaran 2025 DPRD Kota Depok, menjadi momentum sarat makna. Tak sekadar agenda formal kelembagaan, sidang yang digelar dengan balutan busana adat Nusantara ini menjelma sebagai simbol kuat persatuan dan empati kebangsaan.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok Hj. Yeti Wulandari, mengenakan pakaian adat Tapanuli Selatan (Tapsel), salah satu daerah di Sumatera yang terdampak bencana alam.
Politisi Gerindra ini menegaskan, pilihan busana tersebut merupakan pesan simbolik solidaritas nasional dan kepedulian kemanusiaan.
“Penutupan tahun anggaran ini tidak hanya soal administrasi, tetapi momentum refleksi institusional atas kondisi sosial dan kemanusiaan yang sedang dihadapi masyarakat,” kata Hj. Yeti Wulandari, Senin (29/12/2025).
Menurutnya, penggunaan pakaian adat dalam forum resmi DPRD, merupakan bentuk nyata pengamalan nilai Bhinneka Tunggal Ika.
Sekaligus pengingat, bahwa lembaga legislatif memiliki tanggung jawab moral untuk hadir bersama rakyat, terutama mereka yang terdampak bencana.
“Sebagai wakil rakyat, kami memiliki kewajiban moral dan konstitusional untuk mengekspresikan empati kolektif, serta keberpihakan kepada warga yang sedang mengalami musibah di berbagai daerah Indonesia,” ungkapnya.
Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra ini menambahkan, solidaritas yang ditunjukkan DPRD Kota Depok ini, diharapkan dapat memperkuat kohesi sosial dan menumbuhkan kepedulian lintas daerah di tengah situasi krisis yang bersifat multidimensional.
Hj. Yeti Wulandari juga menyinggung kondisi Kota Depok yang memiliki potensi risiko bencana hidrometeorologi, akibat meningkatnya curah hujan dan cuaca ekstrem. Untuk itu, ia mendorong penguatan tata kelola kebencanaan yang lebih terintegrasi.
“Kami mendorong Pemkot Depok memperkuat sistem kebencanaan berbasis kelembagaan dan partisipasi masyarakat, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor agar perlindungan warga dapat berjalan secara sistematis dan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif membantu warga terdampak bencana, melalui aksi sosial nyata.
“Solidaritas, tidak cukup berhenti pada simbol. Yang terpenting adalah aksi konkret dan berkelanjutan, demi pemulihan kondisi sosial dan kemanusiaan,” pungkasnya. (Rik)






