Wartasentral.com, Jakarta – Pimpinan PT Jawa Putra Mandiri (JPM) Iskandar, S.Sos menyatakan keberatan atas masuknya Balai Lelang Serasi (IBID) yang merupakan anak perusahaan PT Serasi Auto Raya (SERA) yang bernaung dibawah bendera Grup Astra, dalam proses kerjasama limbah PT United Tractors, Tbk.
“Saya keberatan dengan adanya IBID di UT, karena akan membuat kerjasama limbah kami terhenti. Jika ini terhenti, kami tidak bisa lagi memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak warga sekitar kantor,” ujarnya, saat ditemui wartawan di Hall Nur Iskandar, Jalan Jl. Kp. Petukangan No.115, RT.6/RW.4, Rw. Terate, Kec. Cakung, Kota Jakarta Timur, Jumat (27/2/2026).
Ia mengemukakan, sejak tahun 1974 sampai sekarang, dari mulai Almarhum Bapak Paidi hingga sekarang dipimpin Iskandar sendiri, kerjasama antara mereka tidak pernah bermasalah.
Ia menyampaikan, PT JPM saat ini tengah fokus pada pendidikan sekolah gratis. Melalui Yayasan Nur Iskandar Abadi, ia mendirikan sekolah Raudhatul Athfal, yang memberikan biaya sekolah gratis untuk warga RT 15 dan 16 RW 4 Kelurahan Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur.
Lantaran itu, ia bersikeras kerjasama antara PT JPM dengan PT United Tractors (UT), tidak boleh diambil alih oleh IBID. Iskandar lantas mengetuk pintu nurani pejabat UT yang baru, agar mengingat sejarah awal kerjasama antara mereka, sehingga UT bisa menjadi besar seperti sekarang ini.
“Saya selaku pimpinan PT JPM tidak punya permasalahan dengan UT, tapi jika tiba-tiba ada pihak lain yang mau ambil alih kerjasama kami, saya sangat keberatan. Karena saya merasa, anak-anak Didik ini akan kehilangan masa depan, itu yang perlu diperhatikan,” tegasnya.
Sebenarnya, imbuh Iskandar, hari Jumat ini ia bersama massa akan melakukan aksi unjuk rasa. Namun secara intelektual ia batalkan rencana itu dan malah memilih jalur mediasi, mengingat kedua perusahaan sudah puluhan tahun menjalin kerjasama terkait limbah.
Ia menyampaikan ini, sebagai contoh utama dalam hal ini setiap ada masalah, pasti ada solusinya, tidak ada masalah yang tidak selesai tanpa solusi.
“Nah inilah keinginan saya sebagai Pimpinan PT JPM, Saya minta PT UT sekali lagi lihat sejarah dari 1974 sampai saat ini. Karena dulu perusahaan belum besar seperti ini, kami sudah membantu UT menyelesaikan limbahnya,” beber Iskandar.
Bila IBID tetap mau ambil alih kerjasama PT JPM, ia mempersilahkan tapi dengan syarat, sebagai owner PT Jawa Putra Mandiri ia punya tuntutan. Yakni terhitung mulai dari tahun 1974 sampai saat ini, IBID harus ganti kerugian sebesar Rp 20 miliar.
Selain itu, tegasnya, bila dalam Minggu ini tidak ada jawaban yang jelas terkait kerjasama tetap berlanjut atau tidak, maka ia akan melakukan aksi demo besar-besaran.
“Saya owner JPM tidak ada permasalahan, tapi ketika tiba-tiba ada orang yang mau masuk ke PT UT dan mengambil alih pekerjaan kami, serta belum ada kejelasan kelanjutan kerjasama , maka kami bersama massa tidak akan tinggal diam,” pungkasnya. (Key)
