Wartasentral.com, Depok – Untuk meningkatkan kompetensi dalam bidang publikasi, sejumlah santri yang akan mengelola media online Pesantren Dar el Fikr Depok, diberikan pelatihan jurnalistik, di Aula Pesantren, Sabtu (14/2/2026).
Materi pelatihan pada kegiatan yang diikuti 2 Santriwati dan 4 Santriawan itu, dibawakan oleh Wartawan Radar Post Adi Mahmudi dan Sekretaris Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Depok Riki.
Dalam paparannya, Adi menjelaskan mengenai unsur-unsur yang harus tercantum dalam membuat sebuah berita.
“Dalam sebuah berita itu, harus mengandung 5 W 1 H. Yakni, What (Apa), Who (Siapa), Where (Di mana), When (Kapan), Why (Mengapa) dan How (Bagaimana), Ini yang paling utama,” jelasnya.
Ia pun menekankan, rumus dasar jurnalistik itu untuk memastikan berita, artikel atau laporan peristiwa, ditulis lengkap secara objektif dan terstruktur.
Sementara itu, setelah para Santri melakukan praktek membuat sebuah berita, Riki mengedit salah satu karya tulis dan mengulas bahasa jurnalistik dan penempatan kalimat.
“Teknik penulisan jurnalistik, harus menggunakan komponen utama Piramida Terbalik. Ini adalah teknik penulisan jurnalistik, yang menempatkan informasi paling penting atau inti berita 5W+1H di bagian awal yang disebut kepala (Lead) atau teras berita, diikuti detail pendukung dan diakhiri informasi latar belakang yang kurang penting,” urainya.
Metode ini, tambahnya, memudahkan pembaca memahami poin utama dengan cepat, memungkinkan penyuntingan dari bawah dan lazim digunakan untuk berita.
Paragraf awal, yang biasa disebut Lead atau teras Berita, ulasnya, memuat informasi paling krusial, menarik dan inti dari berita tersebut. Yakni siapa, apa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana.
Pada bagian tengah dengan sebutan tubuh Berita, imbuhnya, berisi argumen, kutipan, data tambahan dan penjelasan yang mendukung informasi penting di paragraf awal.

“Sedangkan pada bagian bawah atau ekor Berita, berisi Informasi pendukung tambahan, latar belakang, atau detail kecil yang jika dipotong tidak merusak esensi berita,” terang Riki.
Ia mengemukakan, manfaat dari penerapan metode itu dapat memberikan efisiensi waktu. Pembaca segera mendapatkan intisari berita, tanpa harus membaca seluruh artikel.
“Teknik ini, memastikan informasi yang paling penting tidak terlewatkan dan menarik perhatian pembaca sejak kalimat pertama,” tekannya.
Pelatihan jurnalistik itu berlangsung interaktif, tidak hanya para pengajar yang memberikan materi satu arah, peserta pun bisa mengajukan pertanyaan sehingga mereka mendapatkan informasi yang ingin mereka ketahui.
Metode interaktif dimana mereka mengajukan pertanyaan, lanjutnya, secara tidak langsung merangsang intuisi para peserta dan penerapan praktik wawancara.
“Tugas wartawan sebelum menulis dan menyebarluaskan berita akurat melalui media massa, kan harus melakukan konfirmasi dulu, salah satunya melalui wawancara nara sumber,” pungkasnya.
Para santri yang mengikuti pelatihan jurnalistik tersebut antara lain, Ariel Ahmad, Juan, Zakky, Arik, Lulu dan Syarla (Key)






